lundi 14 décembre 2020

Tribuana, olahan / expressi tiga jagat : TRIBUANA Tapa Sudana: badan, bayu hidup/emosi, pikiran.

 Updated jumat, friday, 8 january 2021, 11:10

Sunday, March 23, 2014 updated 14 December 2020

Tribuana; jalan tiga dunia, manusia dan sandiwaranya, olah memekar pernyataan pikir, bayu dan badan.

Membangkitkan,  mengembang memekar dicipta, mengucap dibibir, melahirkan dikehidupan, memelihara bibit mengembang = bercocok-tanam expressi 3 dunia kemanusiaan, untuk marga teater/sandiwara, dan jalan kehidupan.
Kata-kata terangkai  mengkalimat, gambar membayang dikenangan, suara menggema didiri dan lingkungan, tiga sarana penyalur idea ke pertunjukkan/performance.
Pikir, Bayu-hidup dan Badan,
apa yang kulakukan sehari-hari ?

English Tribuana text, please klick here




J

photo february2017
photo october 2017

photo 2012

photo 1950an &1964

Voie Tribuana en Français

et aussi /also in
Italian? Spanish? Greek? one link contains others.
Welcome.

5 janji, syarat, sumpah, ketekunan, bhakti, 
yang patut dipraktekkan, dita'ati:
1: mengerti, menghormat, mengolah kepribadian dengan jiwa kebhaktian.
2: menghidupi kejujuran, terus terang, hening cipta.
3: mengolah dengan tekun keahliannya, seninya, pekerjaannya.
4: bersusila menyelaras pikir, laksana/laku dengan lingkungannya (mini atau maxi lingkungan, tergantung dari luas kesadarannya meng"ADA" dikehidupan.
5: menghormati dan mengolah GURU SEJATInya = menguasai diri= meluhur ciptaan leluhur didirinya.

Saya Tapa Sudana, nama "actor of life in Paris", I Gede Sudana (nama lahir dari 1945-1974),  I Gede Tapa Sudana (1974-sekarang, paspor Indonesia), terlontar (melontarkan diri) ke Paris berkat ajakan Sardono W. Kusumo dibulan february 1974, ikut dalam rombongan "Dongeng dari Dirah" = "La Sorcière de Dirah", tour ke Paris dan di beberapa negara Eropah waktu itu. Rombongan terdiri dari 30 : penari, penabuh, aktor, penyanyi, tradisionil dan kontemporen, serta 4 anak uur sekitar 8 tahunan. sebagai lanjutan dari kerja sama saya dengan Bapak Sardono ikut membikin Kechak "urakan" di desa Teges ditahun 1973an, kalau ingatan saya masih benar. Sampai sampai kechak itu dilarang, entah apa alasannya yang jelas. Waktu itu Sardono sedang mencelupkan dirinya sedalam dalamnya, mengabdi sepenuhnya, secara total pada "taksu" yang mengendarainya di Bali. Saya mengiringi mas Don berkeliling, dari desa Teges Gianyar, satu malam ke Vihara Budha di Singaraja barat. Keterlibatannya dengan karya melukisnyapun sudah mulai saya lihat ditahun 1973. Tidur dirumahnya pak Londjing didesa Teges, latihan kecak malam hari dengan kehadiran pak Kakul dari Batuan, bapak I Made Gerindem pimpinan gamelan desa Teges, Ida Bagus Geria Dalang, penari dari desa Mas, Gianyar, Bapak Tempo dari Tampaksiring, dan warga desa Teges.

Malam itu Sardono meminta saya menghaturkan "ilmu pernafasan yoga" pernafasan/pranayama Bali untuk group kreasi/riset itu. Pak Kakul lalu menyuguhkan gerak mudra tangan. Pak mangku Teges hadir memercikkan tirtha suci kepada segenap warga kechak yang duduk bersila dilataran tanah pura Teges; dan ....chak! chak chak chak .... pak mangku yang masih ada ditengah pengechak, secara tuntas, bagaikan gerakan reflex menari dengan mangkok tirtanya. Konon ini juga merupakan satu kriteria larangan, pemangku kok menari. Pak Moerdowo, pemuka budaya waktu itu di pemerintahan, ada dipihak berlawanan dengan aliran seni kreasi Sardono.


Ingat saya satu ketika, sore hari, ketika rombongan pak Moedowo datang, saya dan Sarodno bersembunyi di "teba" (di kebun bambu desa Teges). ha haa, lucu, bila mengenang semua itu.


Dalam latihan Kechak kreasi itu I Made Netra almarhum  menghatur Tari dengan pak I Wayan Dibia, atas permintaan Sardono sebagai koreographer. Netra, teman saya gelandangan di Eropah, dengan Netra kita membentuk grup dance teater PATRA di Geneva, Suisse ditahun 1974).Group Patra kemudian dianggotai oleh Jacque Fassola, Soegeng dan Dewi, istri Netra. Group Patra terpecah ketika Netra pulang balik ke Bali dan saya dikait oleh Peter Brook memasuki group risetnya di Paris, CIRT (Centre International de recherche Théâtre) dengan projek "la Conference des Oiseaux", 1979, naskah Soufi oleh Farid al din Attar dari Persia, di teaterkan naskah tulisan/karya Jean-Claude Carrière.  


Saya ikut bersama Peter Brook  dalam 4 ciptaan/creasinya di group international itu, dalam penciptaan dan pementasan keliling dunia: La Conférence des Oiseaux, Carmen (film dan teater), Mahabharata (versi film dan teater dalam bahasa inggris dan perancis), La Tempête dari Shakespeare, berakhir petualangan saya dengan groupnya ditahun 1991.

Sejak tahun 1975 saya mengolah ilham yang muncul di kediaman, studio satu kamar saya di Paris dekat Menara Eiffel, rue Augereau: judul ilham: "travail sur soi" = olah diri ( olah raga, bayu dan rohani). Satu teman orang Perancis mengatakan titel itu terlalu angkuh.


Sementara itu saya dilontarkan oleh Jacques Fassola, di Nice (perancis selatan) untuk memberi "workshop", sebagai satuan kita Group Danse Teater PATRA. Jacques berkata:"Tapa kamu bisa mengajar".
Karena group pengaménan kita di Eropah waktu itu berdasarkan tari dan topeng Bali, dari situlah saya diambil oleh Peter Brook sebagai "tukang gerak topeng", yang sudah lama dia cari topeng dan actornya, saya dijambret di Nice dirumahnya Jacques Fassola, dan sejak itu dari Conference of the birds yang memerlukan ahli topeng, Peter Brook mengambil pilihan Topeng topeng Bali, yang datang dari koleksi Jcques Fassola dan pahatan Ida Bagus Anom dari desa Mas. Ahh, maaf ini cabang cerita lain, ....

Mulailah saya mengolah ilmu, dimulai dari gerakan. Apa yang ada pada diri saya, ingatan dari paman I Nyoman Siki (guru penchak silat )  di rumah keluarga saya di Pemedilan, paman mengajar silat tiap malam, dengan diiringi suara gamelan. Bah, gerakan dan jurus jurusnya terpraktekkan untuk perkelahian; Saya seorang penakut dalam berkelahi, dan tak sampai hati memukul orang. Satu kelemahan.

Bapak saya, I Gede Madera adalah kakak Paman Siki pesilat, adalah seorang guru sekolah rakyat yang menyusun juga senam untuk anak anak sekolah rakyat (sekolah dasar): Senam kesehatan. Bapak bekerja juga di Kantor Pendidikan Jasmani, Denpasar. Bapak I Gede Madera juga mengajarkan taéso senam paginya di beberapa sekolah rakyat, kamipun melakukannya setiap pagi dari jam 07:00 pagi sampai jam 07:15 sebelum duduk dibangku sekolah. Bapak saya menyusun juga senam berdasarkan gerak pokok (agem) tari Bali.
Nah Seni gerak inilah yang mendasar disukma saya, gerak badan, ditututi, diikuti oleh olah Yoga Swami Sivananda yang bapak praktekkan juga waktu itu. Dari Yoga saya menjelajahi juga jalan menjembat ke Meditasi.

Bapak saya membikin saya "topeng cunguh", dari kayu cendana, dia juga pernah melakukan pekerjaan sebagai pematung, untuk menambah penghasilanya, menghidupi keluarganya. Dia mengarang/menyusun sekitar 15 buku untuk sekolah dasar di Bali, buku ilmu bahasa tulisan Bali dan tulisan latin, buku ilmu bumi, buku lagu anak Bali, klick disini, salah satu bukunya: Merdu Sari 3 jilid,  menghormati karya bapak , saya bikin beberapa video di youtube, please klick here: Sekar Emas


Bapak saya, I Gede Madera Almarhum, 
8 september 1921 - 25 oktober 2007
selalu menemani, menerang, menuntun, mengawasi.
Ibu saya Mangku Ni Made Nurani,
1934 (?) - 17 mei 2015, 10:20 


Tahun 2000, ketika saya pulang ke Bali, bertemu Bapak Pembenih manusia saya, tahun itu saya pulang ke Bali dengan istri Pippa Cleator,  menganak putri kami Lutchia Sudana Cleator., lahir 16 juli 2000.


Dengan Putu Wijaya saya memulai main drama karyanya, di Jogyakarta. Putu Wijaya memberikan saya kalimat memandu marga teater, katanya: "Tapa, disiplin actor teater itu lebih keras dari disiplin orang militer," Sekarang saya menemukan disiplin orang teater itu bukan saja harus patuh tapi bisa kreatip, sedang seorang militer tak boleh banyak kreativitasnya, mereka harus mematuhi perintah, patuh taat melakukan apa yang dititahkan. Seorang aktor, bila waktu pementasan tiba, sakitpun dia harus naik panggung, penonton menunggu,  Seorang aktor percaya akan apa yang dia perankan, jadi aktor itu menempuh marga kepercayaan, seperti marga orang yang percaya pada sesuatu, agama, misalnya. Kepercayaan, diolah oleh kecerdasan pikiran, pengertian, dan selebihnya adalah ke percayaan, tanpa perlu bukti ilmiah. itu beda marga ilmu ilmiah membukti, dan marga agama dengan pengertian yang dipercaya dan diyakini.
Mengada atau tidak mengada? to be or not to be;
Dengan Rendra di Jogya ditahun 1968an, kami digembleng dalam 9 persaudaraan persilatan BANGAU PUTIH BOGOR: Persatuan Gerak Badan Bogor, oleh Max Palar, setelah diresmikan oleh Suhu Subur Raharja, resmi diupacarai sebagai pengolah turunan ilmu sang guru, 9 warga silat Bengkel Teater Jogya, termasuk dalam ritual peresmian itu Rendra dan dua istrinya.
Dari modal pengalaman pengolahan silat PGB Bangau Putih itulah Silat Tribuana telah menjadi salah satu dari 27 mata pelajaran di marga "Tribuana theater of life" hingga kini. 
http://tapasudana.blogspot.fr/2008/03/tribuana-theatrical-workshop-2008.html
Saya menambahkan kata keterangan Tribuana untuk kata Silat :Silat Tribuana, karena dalam pengolahan saya di Workshop Tribuana + praktek sehari hari, saya menemukan gerakan gerakan baru mekar dari apa yang telah saya dapatkan dari paman I Nyoman Siki guru Silat di Pemedilan ditahun 1950an, dan dari pengalaman dengan beberapa guru lainnya: Silat Bangau Putih, Kyu Do, Kalaripayat (ketika masa persiapan Mahabharata di Bouffes du Nord Paris selama 9 bulan.

Untuk mengemudi dan mencerna, mengolah kesehatan emosi yang berhubungan dengan organ pencernaan seorang aktor, saya mengikuti ajaran master Mantak Chia yang disalurkan kediri saya dalam workshop di Perancis oleh Juan Li, murid inti Mantak Chia. Ini menjadi mata pelajaran nomor 7 dari marga Tribuana.


Di Perancis olah marga tribuana pada awalnya sering mengadakan "workshop residential", kita menyewa rumah dan semua peserta tidur, makan, berlatih ...24 jam, terkadang tidak tidur semalam suntuk. Gaerah menggila masa muda ditahun 1980an, seperti kerangsukkan "sesuatu" terkendarai oleh "taksu" (kekuatan gaib tak terterka dari mana asalnya, bagaimana hadirnya menyelinap di aksi badan, pikir dan bayu hidup, yang tak selalu mudah dimengerti. just go, with awareness. Edan ning éling lan waspodo, sebisa bisanya.

Pandangan Tribuana, untuk seorang aktor.

Actor Tribuana adalah mangku, pemangku, penjunjung, penghormat, pemelihara, pemekar "sesuatu" yang lebih penting, lebih mulia, lebih agung, lebih berharga, lebih bernilai dari diri (milik diri) nya sendiri. Memainkan peran yang diturunkandari watak/ karakter, dari leluhur, dari tenaga pencipta semesta, para dewata (kata orang Bali), dengan demikian sang aktor akan meningkatkan nilai/ budaya/budhi daya dirinya.
Pendapat pikiran, dasar dalam pengolahan, aktor, sebagai pemangku, peladen, penghidup, (servant), sebagai warisan leluhur Bali, Hindu Bali, kenangan dan pengalaman masa kecil-muda di Bali, saya berusaha menghormat warisan leluhur, dari warga mangku asal rumah keluarga disisi utara pura Penambangan Badung, Pemecutan, Denpasar. Ibu Candi di Pura itu junjungan keluarga kakek. Ingat kakek kerauhan, jam 3 dini hari, di Piodalan purnama kedasa, ketika kakek memimpin persidangan para dewa, yang turun dengan perantaraan badan manusia, pemangkunya. Odalan Purnama Kedasa pura Tambangan Badung, tahun ini 2015 kiranya dirayakan tgl. 3 april 2015.

Dari ilham mangku meng-aktor, maka saya didapati oleh-oleh, mendapat tuntunan bahwa sang aktor itu harus memangku, menghidup "roh, jiwa, karakter" yang diperankannya; Bila ada yang sampai kerangsukkan, "kerauhan" kata Balinya, itu pertanda dia telah menyerahkan raganya sebagai sarana menghidup "Roh yang Rauh/datang » yang mau hadir diantara kehidupan manusia, didunia ini, lewat seni menghidup dipentas sandiwara=teater, sandi sandi wewarahan keadaan/kehidupan.

Actor Tribuana, bersifat berlaku bagaikan air, akan mengambil bentuk yang mewadahinya, cair mencair mengalir dalam segala bentuk, bentuk yang menghidup.
Istilah Bali, penari menari, pregina mesolah.
Nah, mesolah, kalau kita meminjam kata-kata Hamletnya Shakespeare: "to be or not to be, ....." ha haa, but HOW ? ???


Bagaimana sikap kita menghidup di panggung, atau di kehidupan? Apa yang perlu diolah didirinya?
Untuk itu perlu ditentukan unsur unsur diri yang akan aktip mencipta, aktip bersolah di kehidupan, di panggung, dimana saja.


Tribuana memandang, menimbang, 3 unsur pokok yang membatangi cabang ranting daun bunga buah karya aksi seorang aktor kehidupan adalah :
  1. kepala, bertahta sang pikir, pintu masuk roh penghidup: UNSUR PIKIR; tersimbul dalam logo: segi-tiga Tribuana. The mind.
  2. organ pencernaan, dirongga dada hingga perut sebagai pabrik bayu (tenaga hidup menghidui karekter atau peran yang dimainkan, dipangku), yang mengolah mengubah makanan, materi/benda, udara menjadi tenaga hidup, tenaga menghidup: UNSUR WARNA WARNI EMOSI, emosi, sedih, gembira, marah, senang, dll: tersimbul dalam logo: lingkaran. Living emotional instrument and expression.
  3. bagian pinggul, alat kelamin mencipta memperbanyak pelahiran manusia, dua yang bersatu mencipta hidup: unsur BADAN/RAGA: tersimbul dalam logo: segi empat. Materi, kebendaan, keberadaan yang membadan. The matter.

Berdasarkan tiga unsur pokok itu, saya meringkas marga sekolahan actor dengan nama tiga dunia, Tribuana.
Dengan expressi tiga dunialah aktor akan bercerita, memeran watak, menyanyi, menari, berkata, beraneka rasa (emosi) bergerak. Olah tiga dunia dalam bercerita;


Apakah kriteria penentu yang jitu untuk cerita?
Meminjam dari Bhagavan Biasa, ketika beliau konon memulai cerita nya, menceritakan pada seorang anak didepan Ganesha penulisnya/sekretarisnya, bahwa cerita yang dia ceritakan akan memberi jaminan :


  1. mangasah kecerdasan, inteligensia
  2. umur panjang, cerita selesai dipentaskan, tapi inti sari certa terus berlalu hidup di ingatan dan berproses dibenak/pikiran manusia; ingatan mengkristal membendahara, perbendaharaan mengilmu, ilmu menerang marga sesolahan.
  3. mengubah, membangun, men transformasi penceritanya, pendengarnya, lingkungannya. Setelah mendengar, menghidupi "cerita", pendengar, penonton, actornya, merasa perubahan didirinya, hingga ter "transformasi" menjadi "orang lain". Perkembangan, mengembang, mengubah perwujudan expressi tiga dunianya.

Kalau saya tambahkan, cerita di sandiwara (kata yang saya lebih suka memakai, adalah kata "sandi-wara", dari pada memakai kata "teater") hendaknya kerja teater itu juga membina watak manusia yang baik, sopan santun, cerdas, berbudaya dan berilmu tinggi dan mendasar mendalam disukma kemanusiaan yang beradab, memproduksi manusia bijaksana menebar kebajikan.

Jaman sekarang, jaman internet, jaman angkutan kapal terbang, angkutan informasi lewat satelit,  dimana manusia sedunia bisa bercampur berasimilasi dengan isi kelir computer, dimana informasi terberita bisa menjalar mendunia dengan satu klik di jari, udara saling mempengaruhi saling menarik merangsang ke segala arah, perlu keteguhan watak berlandaskan ajaran tingkah laku yang mengharmoni di hidup dengan lingkungan, sikap bijaksana.
Teater, salah satu sarana yang penting, karena dia mencakup, menyentuh, mengolah semua unsur kemanusiaan, unusr tiga dunianya.

Di marga Tribuana, saya menghatur, menyaji, menyuguh 28 ladang pengolahan, yang boleh disebut mata pelajaran.


  1. Ladang 0, mata pelajaran 1: hamba menghampa, nol, mengosong diri. Saya ambil dari pelajaran saya di Bengkel Teater WS Rendra di Jogyakarta, berjudul PREP (preparation).
  2. Ladang 1: Silat Tribuana, olah gerak badan. Ilham dan sumber dari persilatan Bangau Putih Bogor, waktu itu Guru Besar Bapak Subur Raharja (almarhum), dengan pelatih kami di Jogyakarta Max Palar, saya meneruskan di Paris dengan Palisandra Finger, seorang putri Perancis pewaris perguruan, satu diantara delapanbelas sim pay tote;
  3. Ladang 2: Rasalir, mengalir merasa tenaga dalam gerak. Memerinci setiap possisi dalam gerakan. Inspirasi dari Tai chi, saya mempraktekkan di Paris Tai Chi jenis Wu, dengan seorang guru cina, monsieur Toy di park Butte chaumont.
  4. Ladang 3:  Taksu Tribuana, mirip Chi Kung Cina, Mendalam dirasa dan mengembang di bayangan menghimbau kedatangan "jiwa", roh, karakter /watak yang menghidup dalam aksi seorang aktor.
  5. Ladang 4: Kukul Jagat, (inspirasi Ko Do of Japan) saya meminjam kata kukul dari bali, yang bisa dikaitkan dengan bedugan di mesjid, olah perkusi, ritme, ritual, dan ketahanan kestabilan tenaga yang terus mengalir. Olah gaya tahan hidup. Ini silahkan klick disini, videopara siswa tribuana di Italia, di Teatro del Montevaso, berlatih Kukul Djagat. 
  6. Ladang 5: Yoga Tribuana, adalah merenung dan merasa apakah isi satu posisi/sikap badan, tenaganya, karakternya, sikap hidup, gerak reflexnya; Sebuah posisi=asana, mengandung jenis tenaga tertentu, yang dicoba dihidupkan dalam seni olah teater.
  7. Ladang 6: Pranayama Tribuana, olah pernafasan, nafas mengudarakan bayu karakter. Latihan pernafasan bisa juga dipergunakan untuk meditasi (dyana). Menyadari keluar masuknya tenaga luar-dalam.
  8. Ladang 7: olahan latihan kesehatan Taoist. Emosi, perasaan yang diungkapkan, perasaan yang diexpressi mempunyai hubungan dengan organ pencernak, menurut ilmu Tao Cina; Maka ada latihan sehari hari yang harus dilakukan, yang dijiwai oleh ladang 4 tribuana, gerak, nafas, dan bayangan yang dimohon dan membangkit membayu; Untuk ini saya mengikuti latihan Health movement of Master Mantak Chia, saya dapati dari berguru dengan Juan Li seorang murid pewarisnya.
  9. Ladang 8: Tongkat Tribuana, ini karya ciptaan saya, untuk kesehatan, untuk meditasi, untuk latihan ber-grup/kelompok.
  10. Ladang 9: Olah Topeng untuk teater, untuk peran. Ini sebuah video rituel seni Topeng Bali, ini video pertunjukkan topeng di Paris dengan Soegeng dan orkes ambasad Indonesia di Paris, pimpinan Dewa Putra Diasa.
  11. Ladang 10: Olah Wayang, puppet/ wayang ciptaan dari apa saja, wayang bayangan atau wayang golek untuk menghidupkan peran/watak dari sebuah drama/ sandiwara. Ini sebuah cuplikan video pertunjukkan "GOLO le simple" ciptaan kami bertiga dengan Sébastien Rabbé (Teater Artisanat des Menteurs) dan Olivier Richard( Teater Art Metamorphoses) ex dua siswa Tribuana.
  12. Ladang 11: olah dengan alat-alat yang berbunyi, olah musik, olah seni suara sebagai sarana pencerita;
  13. Ladang 12: Kechak, inspirasi dari Bali sudah tentunya, mengembang untuk olah ritme, olah suara, olah melaras bersimfoni dengan lingkungan; Ladang ini hasil participasi saya dengan kreasinya Sardono W Kusumo dalam La Sorcière de Dirah yang tour ke Eropah tahun 1974. Salah satu video praktekdengan siswa di Italia. Granara. Ini video kedua kechak.
  14. Ladang 13: Tergerak mengalir oleh musik etnik sedunia pilihan peserta; Musik etnik dunia mengandung warisan leluhur yang telah bisa bertahan di ribuan tahun, patut diresapi, dihidupi, dalam gerak indah, atau gerak expressi bintatang, tetumbuhan, kayu, dewa, hantu, dll.
  15. Ladang 14: Bayuswara dan Lambang, adalah mengolah bunyi yang terlontar dari rasa ketika melihat, mendengar, merasa, mencium, meraba, berreaksi. Bayu swara harus terdiri dari satu vocal (huruf hidup) dan satu konsonant atau boleh lebih. Bayu swara pertama, akan mencipta bayuswara kedua, yang dua mencipta ketiga, dst. rangkaian suara suara itu terucap bagai mantra, atau ritme yang diulang melingkar, menjiwa gerakan, dan menumbuh bayangan.... cerita. Penciptaan bayuswara sebaiknya dimulai dengan meditasi didepan secarik kertas mutih, menggores bentuk atau garis. Goresan/bentuk pertama ber bayuswara pertama. demikian goresan/bentuk pertapa mengrangsang goresan kedua, bentuk kedua dengan suaranya. Demikian seterusnya, hingga tergambarlah sesuatu, bentuk seni lukis, atau mandala; Gambaran itu bisa dinamakan Tripass, atau hard-disk atau "rerajahan". Di Perancis dulu saya namakan Disquette. Disquette/ Lambang/simbol dan bayu swara bagaikan lambang dan lagu.
  16. Ladang 15: kata kata mutiara, kalimat renungan, penuntun hidup, peribahasa. Photo pohon kata-kata mutiara (cristal of thought Tribuana) Workshop didesa Perancis, organisasi oleh Theater Organic.
  17. Ladang 16: olah per kelompokan, olah berkarya dalam kelompok. Ini photo siswa Tribuana didesa Perancis, di teater center "FOOTSBARN THEATER" in Herison, France.
  18. Ladang 17: Improvisasi, menghidup bersemi mengharmoni di desa, kala, patra.
  19. Ladang 18: seni bercerita, mendongeng.
  20. Ladang 19: Totem tribuana. Ini oleh-oleh, kenangan Camping Culture WS Rendra akhir tahun 1960an di Parangtritis Jogyakarta. Saya kembangkan sebagai Seni Pelinggih. Seni mengolah simbul, menyimpul menyimbul perasaan nan dalam dengan menggunakan benda dalam bentuk tiga dimensi, patung atau bangunan seni rupa akan memancarkan tenaga gaib tempat itu atau totem itu. Dari hari ke hari totem berkembang berkat tambahan bahan/object/benda. Expressi totem bisa mencermin jiwa penciptanya. Hubungan nya tak mudah dimengerti, tapi expressi bisa berkesan lama, bagai sumber yang selalu membuka rahasia. Seni rupa. Klick untuk lihat photo, TOTEM TRIBUANA. Disini ada photo siswa tribuana , yang saya ajak berkemah di hutan Venezuela, workshop untuk teater group di Caracas. Ini satu Totem yang dibuat disebuah gua kecil dihutan Venezuela, selama lima hari workshop dihutan.
  21. Ladang 20 : Bila roh totem itu digambarkan dalam dua dimensi seperti olah ladang 14, maka gambaran diatas kartu/kertas putih bujur sangkar atau segi empat bernama Tripass, atau Disquette, PASTRI: passport tribuana;
  22. Ladang 21: olah ritual. Olah ini saya perkenalkan diluar Indonesia, tetapi di Indonesia, ada rasa akan adanya roh disuatu tempat itu telah melahirkan bara ritual, ada kata: keramat. Ritual tribuana adalah hal hal yang dilakukan dengan menghormati adanya roh dibenda mati atau pun hidup, olah ritual tribuana juga mengolahan latihan setiap hari yang menghidupkan roh dalam gerakannya. Berkenaan dengan "magis".
  23. Ladang 22 : Bayu Panah, adalah seni melepas panah secara "ceremony", saya pelajari di Perancis seni Kyu Do dari Jepang, ilmu panah upacara; Juga dapat satu kesempatan praktek Kyu Do di Do Jo nya Onuma Senshei di Tokyo, ditahun 1991. melepaskan panah, melepaskan manah, buah pikiran, niat, dikaitkan pengertiannya dengan senjata gaib Pasupati/pasupata, senjata yang diterima oleh Arjuna anugerah Shiva, berkat ketekunan Arjuna melakukan Tapa Brata, dihutan pengasingan, dalam cerita Maha Bharata karya Peter Brook, Paris, 1983-1987), yang saya ikut acting didalam pentas tour dunia, pran Pandu, Shiva, Salya. moto dari olah Kyu Du, jalan Panah: "one arrow one life". Melepas/melancarkan satu panah adalah hasil karma satu kehidupan. Pasupati pasti mengena sasaran, pancaran cipta tajam menancap sasaran, bila tak menyentuh tujuan ....ha haaa akan membalik ke si pengirimnya. perumpamaan, simbul, dalam berucapan, harus hati hati. Kata yang mengkalimat sebelum dilontarkan via suara oleh saranan di mulut, lidah, gigi, bibir,  tenggorokan, langit-langit rongga mulut, udara .... si "kalimat, menjimat" telah tersemat, terpahat di cipta. Olah semangat yang menyengat.
  24. Ladang 23 : questionnaire tribuana: catatan penguraian tiga waktu hidup peserta: masa lalu (asal usul, pendidikan, dll), sekarang (pekerjaan, kesenangan, seni expressi yang diolah) dan masa depan (apa maunya). nama, tinggi, berat, alamat, hp, dll tentang diri; Memperinci data pribadi di tiga dunia.
  25.  Ladang 24: Renungan bersama dengan saya, dengan pembimbing bengkel (workshop) tentang apa saja, kehidupan, diri, dll. Sikap saya disini sebagai penyerta, penyuguh pandangan, jawaban dari sebuah persoalan dalam bentuk suguhan, bukan keharusan. Pesertalah yang menentukan baik buruk, serta penerimaan atau penolakan jawaban pertanyaan. Dialogos, dua logos, mendoa logos.
  26. Ladang 25: Post note Tribuana, adalah satu olahan menulis catatan apa yang dipanen dari masa lalu ketika ber workshop, catatan, renungan, usul, diskusi dengan saya via skype, email, pun telpon bisa. Melanjut dalam waktu hidup.
  27. Ladang 26: Gerak nurani, ini timbul di Bengkel Teater Rendra Jogyakarta ketika saya mulai memasuki Bengkel Teater Rendra Jogya ditahun 1968 (kalau ingatan saya benar). Gerak indah baiknya dilakukan ditempat suci ber taksu, atau diruang yang netral hening sepi. Bisa juga menggunakan musik yang mendalam rasa penghayatan. Seni meméndét di odalan Pura di Bali, ingatan saya melayang ke odalan purnama kedasa di Tambangan Badung.
  28. Ladang 27 / mata pelajaran 27 ini bernama :improvisasi 3 kata. Dari tiga kata, yang keluar dari kepala secara "reflex", bagaimana mengembangkannya? Dari satu kata ke kata lainnya, ada jarak, ada "perlu rangkaian", bagai jembatan, demikian perkawinan dua kata melahir anak cucu kata-kata, keluarga kata-kata, meng-kalimat, kalimat berpuisi, berpantun, bersajak, berceritera .... Seni mengembang bersama, mulai dari latihan mengembang 3 kata, hingga ke lingkungan, semesta, dan Tuhan Pencipta Semesta.
  29. Mekekawin. Seni menyusun kalimat, kata per kata, dengan di inspirasi oleh bayangan pohon cemara, atau acasia, yang batang kalimatnya tak terlalu mengembangkan percabangan. kesadaran akan rangkaian kata meninti dari dasar/bumi menuju langit/sinar penerangan pokok inti kalimat/pembicaraan. Kayon, Kekayun dalam pewayangan Jawa dan Bali membayangkan apa inti sari yang perlu dikalimatkan.Kalimat bagaikan garis, penghormatan kata yang menentukan kata berikutnya sedemikian membikin rantaian bagai jembatan, baagai batang bohon cemara. enjulang kelangit dan bumi mengakar. Kematangan mengulas, kematangan mensari pengalaman, mencipta kata kata mutiara, Kebijaksanaan, kristal buah renungan.



Tidaklah mungkin melakukan 29 mata pelajaran/ladang pengolahan diatas dalam satu workshop yang singkat. Pilih mana sukanya, sesuai kenyataan dan sarana serta kemampuan.

Bila sandiwara adalah mutiara kehidupan, maka tujuan sandiwara adalah membangkitkan sinar mencerah, membimbing, penuntun kehidupan yang mengharmonis dengan lingkungannya; Dengan membangkitkan expressi tiga dunia, pikir, rasa dan badan sang aktor (pregina) memekar menyelaras dikekinian waktu hidupnya, tempatnya, situasinya dalam bercerita atau memerankan watak mainannya.

Pikir, kata, aksi sehari hari, kebiasaan, watak, nasib. Demikianlah tangga jalan hidup dari ilham di pikir ke nasib.

Seorang aktor Tribuana, diilhami dan dituntun oleh beberapa patokan beraksi:
  1. mesolah/bermain/berakting bagaikan anak kecil, innocent, tanpa rasa berdosa, laju mencair bercanda dalam kehidupan.
  2. bertingkah laku bagai orang dewasa yang matang tahu sopansantun hidup bermasyarakat, berolah dalam jalan keharmonisan di mana saja.
  3. berpikir sebagai seorang ahli, scientific, beriman sebagai seorang ulama, pendeta yang penuntun imannya, keyakinannya, menuruti yang patut/benar dituntut.
Semua parameter diatas meski sulit dicapai dilaksana, tapi janganlah itu akan mengalihkan kita untuk tidak menuruti patokan, nasehat , jalan yang patut diolah, dituruti....

Bagaimanakah seorang murid harus bersikap terhadap gurunya?  (http://tapasudana.blogspot.fr/2006/01/actors-references-steps-of-work-and.html)

Bagaimana seorang guru bersikap terhadap muridnya?  (http://tapasudana.blogspot.fr/2006/01/masters-considerations.html)

Selamat mengolah diri dalam marga keharmonisan antar sesama; seni mesolah, the art of acting , kata orang Inggris.

Montreuil, jumat,8 January 2021, 11:00
akan selalu dikinikan
sembah hatur untuk marga Tribuana, jalan tiga dunia
saya pemangku penciptanya
I Gede Tapa Sudana







"Ngayah" = persembahan sesajen gaya tradisi Bali berupa "pertunjukkan"